Masyarakat Badau Keluhkan Aroma Tidak Sedap Dan Menyengat Dari Limbah Pabrik

BELITUNG, pradivanews.com – Merebaknya aroma tidak sedap dan menyengat yang diduga berasal dari limbah pabrik pengolahan Crude Palm Oil (CPO) milik PT Bina Agro Tani (PT BAT), dikeluhkan masyarakat Desa Badau, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung.

Hal tersebut dibenarkan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Badau, Rano yang menyebutkan bahwa saat ini banyak masyarakatnya yang sering menyampaikan keluhan terkait aroma tidak sedap dari limbah pabrik pengolahan CPO milik PT BAT tersebut.

Menyikapi keluhan masyarakat, Rano mengatakan pihak Pemerintah Desa (Pemdes) bersama BPD beberapa waktu lalu sudah mengundang Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Belitung, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Belitung, pihak perusahaan dan beberapa anggota DPRD Belitung dari Dapil Sijuk Badau.

Menurut Rano, beberapa anggota DPRD Belitung Dapil Sijuk Badau yang diundang, berhalangan hadir dalam pertemuan Musyawarah Desa (Musdes) tersebut, disebabkan masih melakukan dinas luar. Dikatakan Rano, Musdes tersebut bertujuan untuk mengatasi dampak limbah yang saat ini banyak dikeluhkan masyarakat.
 
‘’Kalau kami di BPD cuma sebatas itu lah dapatnya, melaksanakan Musdes, karena tidak bisa melangkah lebih jauh”, sebut Rano kepada insan pewarta saat ditemui di Kantor BPD Desa Badau, Senin (10/06/2024).

Lebih lanjut Rano mengatakan, dari hasil Musdes tersebut, DLH Belitung sempat turun ke lokasi untuk mengecek secara langsung kondisi di lapangan. Namun Rano menyanyangkan, pada saat itu pihak DLH Belitung yang turun ke lokasi tidak mengajak masyarakat sehingga terkesan seperti kunjungan biasa saja.

‘’DLH turun itu katanya cuma mengambil sampling, kami tidak tahu lagi setelah itu. Yang pasti bau busuk masih ada sampai sekarang, jadi keluhan masyarakat sama sekali tidak terbayarkan”, lanjut Rano.

Rano juga mengatakan, sebenarnya masyarakat tidak terlalu memperdulikan apakah limbah tersebut berbahaya atau tidak. Sejauh ini masyarakat hanya mengaku sangat terganggu dengan dampak dari limbah pabrik yang aromanya sangat menyengat tersebut.

“Jadi kalau berdasarkan laporan masyarakat, limbahnya itu dialiri ke sawit yang ada dekat sana, cuma kan dampak dari baunya yang membuat masyarakat tidak tahan. Saat hujan, baunya sangat nyata, luar biasa dirasakan masyarakat”, kata Rano.

Terhadap permasalahan tersebut, Rano juga mengaku sudah beberapa kali melakukan koordinasi dengan Humas PT BAT. Hanya saja belum ada tindakan sama sekali, sehingga aroma tidak sedap tersebut masih dirasakan masyarakat.

“Kami tidak anti dengan investasi yang masuk ke desa kami, cuma tolong jangan buat masyarakat resah, akibat merasakan dampak dari aktivitas perusahaan”, pungkas Rano. (red)

Editor : Yudi AB


Sahabat
Ikuti terus perkembangan informasi dari media online pradivanews.com, yang update informasinya selalu kami sajikan di halaman atau fanpage Facebook Sahabat pradivanews

Kami juga memiliki Channel Youtube, untuk menyajikan informasi dalam format visual…
Terima kasih kepada sahabat semua, yang sudah bersedia mengunjungi website kami…