Sekuntum Mawar Merah di Genggaman Umak

UMAK begitulah masyarakat Belitong memanggil seorang Ibu yang telah melahirkan anak-anak tercintanya. Senja itu langit Pulau Belitong mulai memerah saga, satu dua Kalong liar beterbangan mengitari langit yang mulai meredup, dan matahari perlahan-lahan menenggelamkan diri bersimpuh di balik ujung samudera.

Pipit, begitulah nama sapaan seorang gadis berusia enam belas tahun yang baru duduk di bangku sekolah kelas XI, di salah satu SMA di kota Tanjungpandan. Hari mulai menjelang Magrib, Pipit segera menutup jendela dan merapatkan pintu yang mulai usang dimakan waktu.

Di rumah sederhana semi permanen berdinding papan itulah hidup satu keluarga kecil yang harmonis. Pipit adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adiknya bernama Andri yang baru duduk di bangku sekolah kelas VII, di salah satu SMP di Kota Tanjungpandan, serta adiknya si bungsu yang bernama Rina berusia empat tahun.

Sementara Ayah Pipit bekerja jauh di seberang, tepatnya di Irian Jaya. Oleh karena itulah Pipit sebagai anak pertama mengemban tugas yang sangat berat, selain merawat dan mengurus Ibunya yang sedang sakit keras, ia juga harus merawat kedua adiknya yang masih kecil. Ayahnya pulang ke Belitong setahun sekali untuk berkumpul bersama keluarga, terkadang bisa lebih cepat enam bulan sekali.

Hari semakin gelap, Pipit pun bergegas menyalakan lampu pijar agar ruangan bercahaya terang. Di dapur ia mulai sibuk menyiapkan hidangan makanan, untuk disajikan teruntuk Ibunya yang sedang terbaring sakit.
“Mak, bangunlah sebentar, Umak makanlah dulu setelah itu minum obat ya !”, perlahan Ibunya pun bangun dari tempat tidurnya.
“Iya Nak, Umak akan makan hasil masakanmu, asalkan Pipit suapi ya?”
Pipit pun mengangguk dan tersenyum kecil sambil mendekati Ibunya yang sedang meringis menahan kesakitan yang luar biasa.

Perlahan diam-diam Pipit mengusap air matanya yang menetes, ia merasakan rasa kesakitan yang dialami Ibunya. Ia pun mulai menyuapi nasi putih dengan sayur Bayam dan sepotong ikan goreng. Ibunya pun menganga kecil, menyantap makanan yang dimasak sendiri oleh anak gadisnya.
“Pit enak sekali masakanmu”
“Umak bisa saja, ini kan masakan biasa Mak, hanya nasi putih, sayur Bayam dan Sepotong ikan goreng”
Pipit pun menyuapi Ibunya kembali, sambil memberikan minum agar Ibunya tidak tersedak. Selesai makan, Pipit segera memberikan beberapa butir obat kepada Ibunya untuk diminum, supaya beberapa saat Ibunya tidak merasakan kesakitan.

Sejak tahun 2001, Ibunya dinyatakan mengidap penyakit Kanker Payudara oleh seorang dokter, dan harus menjalani tindakan medis yaitu di operasi. Mendengar hal itu tentu Ibunya merasa kaget, panik dan ketakutan yang menjadi-jadi.
“Tidak….. tidaakkkkk mungkin pak dokter, ini tidak mungkin !!!”
dokter tersebut perlahan menghela nafas dan mencoba menenangkan Ibunya Pipit yang sedang panik,
“Maaf Ibu…. Ibu harus tenang, semua penyakit ada obatnya, Ibu sebaiknya jangan panik, Ibu secepatnya akan dirujuk ke salah satu rumah sakit di kota Jakarta”.

Ibunya Pipit pun hanya terdiam mendengar ucapan dokter tersebut, pikirannya kalut, bingung dan tidak karuan, wajahnya terlihat kusut masai. Dapat dibayangkan bagaimana gundahnya hati beliau, air matanya mulai menetes satu-persatu bagaikan hujan gerimis yang begitu terluka membasahi hati dan nurani, tanpa berkata sepatah pun. Pipit dan Ibunya berpamitan kepada dokter untuk segera pulang.

Waktu berlalu seiring awan menggumpal hitam berarak ditiup sang bayuandara, rinai hujan adalah luapan kedukaan dan derita bagi keluarga kecil Pipit. Penyakit Ibunya semakin menjadi, benjolan di bagian payudaranya mulai membesar, rasa kesakitan semakin menjadi-jadi, terkadang diam-diam Ibunya menangis menahan sakit, Pipit bingung harus bagaimana. Sementara Ibunya tidak mau dioperasi, ia takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, sementara anak-anaknya masih kecil-kecil.

“Umak….. Umak harus berobat dan dioperasi ya, umak harus kuat dan sehat kembali”, Pipit mencoba memberikan semangat untuk Ibunya agar mau menjalani tindakan medis dioperasi.
“Pipit, Umak takut Nak… Umak takut, anak-anak Umak masih kecil-kecil”
Pipit perlahan memegang tangan Ibunya “Mak ….. Umak janganlah berpikir yang bukan-bukan, Umak harus lebih sabar menjalani ini Mak !”, akhirnya Pipit memeluk tubuh Ibunya.
Mereka larut dalam kesedihan, menangis sejadi-jadinya, dan Pipit pun mengusap air matanya dan mencium kening Ibunya tercinta.

Pagi-pagi sekali Pipit sudah bangun menyiapkan pakaian sekolah dan makan pagi untuk kedua adiknya. Hari ini Pipit tidak masuk sekolah karena ada hal yang harus diselesaikannya, yaitu menelepon Ayahnya yang sedang bekerja di Irian Jaya. Setelah mengantarkan adiknya sekolah, Pipit segera menuju ke Kantor Telkom untuk menuju ke Warung Telekomunikasi (Wartel), karena pada waktu itu alat komunikasi Hand Phone belum sepopuler sekarang. Pipit segera masuk ke ruang Wartel dan menutup pintu yang terbuat dari kaca bening, angka-angka mulai ditekan dan diam sesaat sambil menunggu jawaban dari Ayahnya.

“Hallo…. hallo Yah….. Ayah, Assalamu’alaikum Yah!”
“Wa’alaikum salam, Hallo ini siapa ?”
“Ayah….. ini Pipit Yah…. Pipit anakmu Yah !”
“Oh Pipit…. iya ada apa Nak, Ada apa ?”
“Yah …. Umak Yah, Umak sakit Yah “
“Apaaa….. Umak sakit, sakit apa Pit ?”
“Ayah, sebelumnya Pipit minta maaf, kami sengaja merahasiakan ini sejak satu tahun yang lalu, kami takut Ayah jadi pikiran dan tidak tenang di sana”
“Iya … iya Pit… Ayah maklum, tapi tolong katakan Umak sakit apa Pit?”
“Yah… maaf ya Yah, Umak dinyatakan mengidap sakit Kanker Payudara dan harus di opersi di rumah sakit di Jakarta…. Yah !”
“Apaaa….Ya Allah Astagfirullah Hal’adzim ..”