Kisah Pulau Pandan | Cerita Rakyat Belitong

pradivanews.comKISAH Pulau Pandan yang terletak di Tanjung Kelumpang, Kabupaten Belitung Timur ini berdasarkan cerita yang bersumber dari Buku Sastra Lisan Bahasa Melayu Belitung. yang disadur dan diedit kembali ke dalam format Bahasa Indonesia. Cerita aslinya dalam format bahasa melayu Belitung, disadur ke dalam Bahasa Indonesia dengan tujuan untuk memudahkan pembaca.

Kira-kira beberapa ratus tahun yang lalu di Sulawesi Selatan berdiri sebuah kerajaan bernama Palanipa, sebuah daerah yang terletak di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Di sana berkuasa seorang raja bernama Daeng Kasma dengan permaisurinya bernama Putri Salma.

Walaupun tempat ini disebut sebuah kerajaan, namun tidaklah seberapa besar dan luas kekuasaannya. Pada suatu hari entah maksudnya hendak mencari daerah jajahan baru atau hanya sekedar untuk melepaskan Ielah, untuk menghibur hati sambil melihat-lihat pemandangan di luar daerah, maka berangkatlah raja itu bersama-sama dengan permaisuri dan sejumlah 44 orang pengiringnya menuju ke arah barat, tidak tahu ke mana arah tujuan yang sebenarnya. Beliau sendiri langsung bertindak selaku juragannya (nakhodanya).

Tidak diketahui bagaimana keadaan selama dalam pelayaran, namun setelah berbulan-bulan lamanya karena dipukul angin ribut akhirnya terdamparlah kapalnya ke sebuah pulau yang oleh beliau tidak diketahui namanya. Oleh karena sudah sekian lamanya tidak bertemu dengan daratan dan juga sudah Ielah dalam pelayaran, ditambah pula pulau itu indah pemandangannya dan baik letaknya, maka dengan tidak berpikir panjang lagi berlabuhlah kapal di tempat itu.

Pulau itu kecil terletak di tepi sebuah pulau besar yang belum diketahui juga namanya. Setelah berlabuh maka sauhnya dilemparkan ke darat. Tetapi malang baginya entah memang sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa, setelah beberapa hari lamanya kapal itu berlabuh datanglah angin ribut dengan sangat dahsyatnya sehingga kapal itu tidak dapat lagi menahan kekuatan alam itu. Karena terhempas ke batu karang akhirnya kapal itu pun pecah dan tenggelam bersama anak buah dan segala isinya.

Bekas pecahan-pecahan semuanya menjelma menjadi batu. Antara lain bekas kemudinya menjadi sebuah pulau (batu) yang dinamakan oleh rakyat Tanjung Kelumpang sampai sekarang dengan nama Pulau Campang Kemudi, bekas layarnya menjadi batu yang dinamakan Malang layar, sedangkan pulau yang mula-mula diketemukannya itu sekarang dikenal dengan nama Pulau Pandan.

Bekas-bekas yang masih ada dan dapat diketemukan di Pulau Pandan itu sampai sekarang selain yang disebutkan di atas, ada berupa bekas telapak kaki kanan, hanya sayangnya karena telah dimakan waktu tidak seberapa jelas lagi seperti dahulu yang menurut perkiraan adalah bekas telapak kaki raja tersebut. Sedangkan bekas tali sauhnya sepanjang lebih kurang 40 meter terbentang di atas batu karang yang menghampar di situ masih tampak dengan jelas.

ltulah sebabnya menurut pendapat sebagian masyarakat, ada yang mengatakan bahwa pada zaman itu batu-batu itu sifatnya masih lunak sehingga apa yang terletak atau menimpanya masih tetap berbekas sampai sekarang. Demikianlah sama halnya seperti batu bertulis, relif atau ukiran-ukiran dari batu sehingga mudah dikerjakan orang. Ada pula sebagian berpendapat bahwa bekas-bekas yang masih nyata pada batu-batu sampai sekarang disebabkan kesaktian orang-orang zaman dahulu.

Menurut kepercayaan orang-orang di daerah itu, Juragan (Daeng Kasma) tersebut beserta anak buah kapalnya sampai sekarang masih ada dan berdiam di situ berupa makhluk halus dan tempat kediamannya itu disebut Pulau Batu Berdaun.

Keadaan Pulau Pandan itu luasnya lebih kurang setengah hektar atau 5000 m2 yang sebagian besar terdiri dari batu karang dan sebahagian lagi ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan pantai seperti pohon bakau dan sebagainya. Dengan pantai Pulau Belitong hanya dipisahkan oleh sebuah selat sejauh lebih kurang 10 meter, sehingga apabila air surut dapat dilalui dengan berjalan kaki dan kalau air sedang pasang penuh, dalam airnya hanya satu meter.

Pada zaman penjajahan Jepang, pulau ini dijadikan oleh Jepang sebagai tempat persembunyian tentaranya, mempergunakannya untuk mengamati kapal-kapal patroli Belanda yang berlayar di Laut Jawa. Di sana dibangunnya beberapa buah bangunan atau rumah tempat istirahat, namun sekarang tidak diketemukan lagi bekas-bekasnya. (***)

Sumber : Buku Sastra Lisan Bahasa Melayu Belitung
(Disadur dan diedit ulang kedalam Bahasa Indonesia)

BACA JUGA:


Sahabat
Ikuti terus perkembangan informasi dari media online pradivanews.com, yang update informasinya selalu kami sajikan di halaman atau fanpage Facebook Sahabat pradivanews

Kami juga memiliki Channel Youtube, untuk menyajikan informasi dalam format visual…
Terima kasih kepada sahabat semua, yang sudah bersedia mengunjungi website kamiā€¦