oleh

Part 8 : Mimpi Anak Pulau | By Nelly Kartins

judul gambar

pradivanews.comSAHABAT pembaca, cerita dengan judul Mimpi Anak Pulau ini merupakan buah karya seorang guru dengan nama penulisnya Nelly Kartins. Cerita yang kami sajikan bersambung ini, sudah dibukukan oleh penulisnya. Berikut ini cuplikan ceritanya untuk Part 8, tapi jangan lupa baca juga part sebelumnya, agar ceritanya bisa nyambung …

Baca Sebelumnya: Part 7 : Mimpi Anak Pulau | By Nelly Kartins

Part 8 :

“Kek, kelak aku nak nyarik Ayah,” ucap Sam pada Kek Karim saat ia menemani kakeknya itu ke kebun. Laki-laki tua tapi masih tetap kuat itu menoleh pada cucu kesayangannya.
“Kemane nyarik e?”

“Lum tahu,” jawab anak itu yang membuat kakeknya tersenyum. Laki-laki itu tidak membantah atau menentang keinginan cucunya itu. Dia cukup paham watak Sam yang keras dan pemberani. Sikap yang diwarisi dari sang ayah.

“Iye, itu hak kao,” ujar laki-laki tua itu.

Setelah berjalan cukup jauh. Mereka sudah sampai di kebun. Sam sudah cukup lama tidak melihat kebun kakek. Sam meletakkan gerobak dorong yang dibawanya. Dia memperhatikan sekeliling kebun.
Pohon-pohon kelapa menjulang tinggi. Ada dua batang pohon kueni yang sedang berbuah lebat, dan sudah bisa dipetik.

Pohon cempedak juga sedang musim berbuah, tapi belum matang. Kakek sudah menyiapkan sarung untuk buah yang berduri tumpul dengan isi yang manis dan wangi itu. Biji cempedak juga bisa dibikin dodol. Daging buahnya juga bisa diawetkan dengan dibikin ‘lempok’ dan bisa tahan lama. Apalagi kalau disimpan di lemari es.

Kakek membuat sarung buah cempedak dari daun kelapa yang dijalin. Kata Kakek, kalau disarung buah cempedak ini bisa terbebas dari serangga dan binatang yang bisa merusak kulit buah.

“Kek, mane sarong e biar aku masang e,” kata Sam yang melihat buah cempedak yang sudah besar-besar.

“Itu, ambik di ambong,” jawab Kakek sambil menunjuk keranjang yang terbuat dari anyaman rotan yang dibuatnya sendiri. Kek Karim sedang menyambung kayu yang akan dia gunakan untuk memetik kelapa. Sewaktu muda dia sering memetik kelapa dengan memanjat pohonnya. Namun, sekarang dia sudah tidak sanggup lagi. Lagi pula dulu, pohonnya belum tinggi seperti sekarang.

“Iye Kek.” Sam mengambil sarung-sarung itu dan memasangkan sarung pada buah cempedak.

“Sam, bawa liu-liu ke sinek!” pinta Kakek.

Liu-liu adalah sebutan untuk gerobak dorong yang merupakan ciri khas Pulau Seliu. Disebut liu-liu karena gerobak dorong yang rodanya terbuat dari potongan kayu ini mengeluarkan suara liuu. .liuu. Sam membawa liu-liu ke tempat kakeknya memetik kelapa. Tampak sudah banyak kelapa tua yang terkumpul di dekatnya.

“Masok kan kelapa-kelapa ke keranjang, ” titah Kek Karim pada cucunya itu.

Sam langsung mengambil kelapa yang sudah dipetik kakek dan memasukkannya ke dalam keranjang di atas gerobak dorong. Anak itu melihat ke arah pohon kelapa yang berbuah lebat. Dia merasa haus dan ia membayangkan betapa segarnya kalau minum air kelapa muda.

“Kek, ade mutik kelapa mudak ke?” tanya Sam memperhatikan kakeknya yang sedang memetik buah kelapa. Kakek melarangnya untuk dekat. Karena takut tertimpa buah kelapa. Mendengar pertanyaan cucunya, Kek Karim menghentikan kegiatannya.

“Ade itu di depan kao, tebok la.” Kek Karim menyandarkan tongkat galah yang dia gunakan. Laki-laki itu duduk di tanah melepaskan lelah. Sam melihat ke arah yang ditunjuk kakeknya. Dia melihat ada beberapa buah kelapa yang masih hijau. Anak itu mengambil parang dan langsung mengupas kelapa muda itu.

“Awas, Hati-hati, parang itu tajam,” kata Kakek mengingatkan cucunya itu.

“Iye, Kek.”

“Cempedak la semue di sarong?” tanya Kakek. Laki-laki itu memperhatikan Sam yang sedang meminum air kelapa muda yang baru dikupasnya.

“Lum semue Kek, buahnya banyak,” jawab Sam. Dia memberikan sebuah kelapa muda yang sudah dikupasnya pada sang kakek.

“Ini untuk Kakek,” ucap anak itu. Kek Karim menyambutnya. Sam memang selalu perhatian.

“O ye, biarlah kini Kakek ngulak sebile-bile. Sayang kalo ndak disarong. Itu cempedak bagus,” kata Kek Karim.

“Kakek jangan pegi sendirik, sure isok la klo aku la balik sekula,” ucap Sam. Dia melarang kakeknya untuk pergi sendiri.

Kek Karim tersenyum. “Iye la, kini Kakek muat sarong e duluk.”

MAP

Matahari semakin tinggi dan panas semakin menyengat kulit. Kakek mengajak Sam istirahat. Kakek mengeluarkan bekal yang tadi disiapkan nenek.

“Sam ini makan sangu e,” ajak Kakek.

“Kini Kek, aku nak ke pantai duluk ye.” Sam pamit untuk ke pantai di belakang kebun kakeknya.

Pantainya sangat indah. Pasir halus putih bersih terbentang sepanjang pantai. Ada batu besar. Pantai yang masih asli dan jarang dikunjungi kecuali orang-orang yang lewat untuk ke kebun. Seperti yang mereka lakukan hari ini. Sam berdiri di pinggir pantai, menatap lautan luas. Ada tekad membara di hati anak itu.

“Suatu saat aku harus bisa menyeberangi lautan, pergi jauh menggapai cita-cita ku. Aku harus jadi orang yang berhasil! Aku ingin membuat Umak dan Adek bahagia,” bisiknya perlahan. Kakinya perlahan tertutup pasir, tenggelam dijilat ombak. Kedua tangannya bersidekap di dada.

“Sam! La siang. Makan duluk! Kini kite balik.” terdengar panggilan Kakeknya.

“Iye Kek!” Sam berlari kembali berbalik masuk ke kebun menghampiri Kakeknya.

“Ini makan duluk.” Kakek memberikan rantang bekal pada Sam. Anak itu menyambutnya dan duduk di tanah. Dia menuangkan air sedikit untuk mencuci tangannya. Kakek memperhatikan cucunya yang makan dengan lahap bekal yang disiapkan neneknya. Sayur asem dan ikan asin ditambah sambal terasi adalah makanan kesukaannya.

“Kek, kini kan lauda ujian kamek ndak belajar agik. Aku ikut Kakek ke laut ye.”

“Sebile ujian?”

“Dua minggu agik.”

“Ye la InsyaAllah,” jawab Kakek.

“Kek, ngape jadi Ayah sampai kabur dari pulau?” tanya Sam yang membuat Kek Karim terkejut. “Ape benar Ayah urang jahat?” tanya Sam lagi. Kek Karim terdiam. Dia mencari kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan cucunya itu.

Bersambung …

Baca Juga: Kades Tanjung Binga Resmikan Rumah Produksi Beluntas, Sekolah Perempuan Batch 3 Desa Tanjung Binga


Sahabat, ikutin terus perkembangan informasi yang disajikan media online pradivanews.com, dan jangan lupa untuk meng-klik tombol suka dan mengikuti Pradiva News di Fanpage Facebook agar sahabat tidak ketinggalan informasi yang baru saja kami update …

Caranya mudah, dengan sahabat meng-klik link Fanpage Facebook berwarna hijau ini, maka sahabat akan masuk ke halaman Fanpagenya Pradiva News di Facebook …

Kami juga memiliki Channel Youtube, untuk melihatnya sahabat bisa meng-kliknya langsung .. Maka sahabat akan masuk ke channel group kami yang menyajikan informasi dalam format visual .. Trusss, jangan lupa like dan subscribe yaaa …

Yuuk sahabat klik sekarang juga …

judul gambar