oleh

Part 6 : Mimpi Anak Pulau | By Nelly Kartins

judul gambar

pradivanews.comSAHABAT pembaca, cerita dengan judul Mimpi Anak Pulau ini merupakan buah karya seorang guru dengan nama penulisnya Nelly Kartins. Cerita yang kami sajikan bersambung ini, sudah dibukukan oleh penulisnya. Berikut ini cuplikan ceritanya untuk Part 6, tapi jangan lupa baca juga part sebelumnya, agar ceritanya bisa nyambung …

Baca Sebelumnya: Part 5 : Mimpi Anak Pulau | By Nelly Kartins

Part 6 :

Sam terjaga dari tidurnya, tenggorokannya terasa kering. Anak laki-laki itu bangkit. Tangannya mengucek matanya yang masih terasa berat. Dia melihat ke arah jam dinding.

Dua ekor cecak berkejaran keluar dari balik jam dinding bulat dengan angka yang cukup besar itu. Jam itu merupakan salah satu peninggalan dari ayahnya. Jam yang dibeli dari Singapore. Itu diketahui Sam dari cerita neneknya.

Sam kaget saat salah satu dari cecak tersebut terjatuh di dekat kakinya.

“Astaghfirullah!” ucapnya.

Saat dia baru mau melihat ke arah cecak yang jatuh tersebut. Ternyata cecak nya sudah kabur.
Kembali Sam melihat ke arah jarum jam. Ternyata masih tengah malam. Pukul satu lebih lima menit. Anak itu melangkah ke dapur. Kerongkongannya terasa kering.

Suasana terasa sunyi, walau ada suara deburan ombak yang terdengar. Malam ini cuaca cukup cerah. Sam mencoba mengintip dari celah dinding papan rumahnya, tampak bulan yang bersinar di antara daun mangga. Terdengar juga suara kepak keluang yang terbang di antara dedaunan mencari buah mangga yang memang sudah banyak yang matang.

Pulau Seliu memang merupakan pulau penghasil mangga. Di setiap rumah pasti ada pohon mangga. Pulau kecil ini juga mendapat julukan Pulau Seribu Mangga.

Sam melewati kamar ibunya. Langkahnya terhenti, dia seperti mendengar ada isak tangis yang ditahan. Perlahan Sam menyibak gorden yang menutup kamar ibunya. Tampak wanita yang sangat disayanginya itu menadahkan tangan, mengenakan mukena duduk di atas sajadahnya.

Bahu wanita itu seperti terguncang menandakan bahwa memang sedang menangis. Sam mencoba mendengarkan apa yang diucapkan Ibu dalam doa dan tangisnya. Tapi tidak terdengar. Hanya isak tangis yang tertahan. Itu pun hanya sesekali.
Sam terdiam, ada kesedihan yang dia rasakan.

“Aku janji, Mak. Akan membalas semua aik mate Umak. Aku akan membuat umak bahagia. Doakan anakmu ini, Mak,” ucap Sam lirih. Suhana tidak tahu kalau Sam memperhatikan dirinya. Karena posisinya memang membelakangi pintu.

Setelah merasa tidak ada yang bisa didengarnya, Perlahan Sam mundur perlahan karena tidak ingin Ibunya tahu.

Sam melanjutkan niatnya untuk mengambil minum ke dapur. Kakinya sudah tidak terasa sakit lagi. Sam mengambil gelas dan menuangkan air dari teko. Dia duduk di kursi kayu untuk minum.

Anak laki-laki itu masih memikirkan apa yang telah membuat ibunya menangis. Karena dalam keseharian, terutama saat di depan anak-anaknya, Suhana tampak selalu kuat dan jarang bersedih.

“Apa Ibu merasa sedih karena aku?” tanya Sam pada dirinya sendiri. Betapa dia merasa telah berbuat kesalahan dengan berbohong.

Setelah menghabiskan minumnya, Sam bangkit dan mengintip dari celah pintu dapur. Tampak di kejauhan terlihat kerlip lampu dari perahu nelayan yang sedang melaut. Kalau libur sekolah, Sam juga sering ikut kakeknya ke laut untuk menjala kepiting.

MAP

Setelah cukup lama memperhatikan keadaan di luar. Sam kembali ke dalam menuju ke tempat tidurnya lagi, sebuah dipan kecil di ruang tengah. Sam kembali membaringkan tubuhnya. Berusaha untuk kembali terpejam, namun, dia merasa kantuk seakan menghilang. Sam teringat apa yang dikatakan kakek kalau susah tidur.

“Kalau susah tiduk , cube berzikir sampai akhirnya tertidur.” Dari mulut anak laki-laki itu terdengar lantunan zikir.

Namun, kemudian Sam menghentikannya, dia teringat ajakan Rahim. Ada keinginan untuk mencari informasi tentang ayahnya pada orang-orang yang ada di kapal yang katanya berasal dari Ambon. Siapa tahu para pelaut itu mengenal dan pernah bertemu dengan ayahnya. Apalagi kalau ada yang berasal dari daerah yang sama.

“Besok, aku akan ke sana,” ucapnya dalam hati.
Kemudian anak itu kembali melantunkan zikir perlahan sampai akhirnya suaranya tidak lagi terdengar. Sam kembali tenggelam dalam tidurnya. Sampai kemudian dia terbangun saat Ibu membangunkannya untuk Salat Subuh.

“Sudah mau Subuh, Nak. Bangun.” Suhana mengusap kepala Sam. Wanita itu duduk di pinggir tempat tidur. “Mau ke mesjid?” tanya Suhana saat melihat putra sulungnya itu sudah bangun. Sam menatap ibunya. Wanita itu masih berbalut mukena. Dia tidak tahu apakah ibunya pernah tidur atau tidak.

“Iye, Mak. La azan?” tanya Sam sambil segera bangkit dari tempat tidurnya. “Lum, suat agik. Umak nak mangunek adek kao duluk.”

“Ye, Mak. Umak dak isak tiduk?” tanya Sam yang memperhatikan Suhana. Ibunya itu sama seperti yang dia lihat semalam. Suhana menatap anak laki-lakinya itu.

“Mual be, tiduk, ngape?” tanya Suhana yang merasa heran dengan pertanyaan Sam.

“Ndak Mak. Aku nak nimba aik duluk untuk adek wudu,” jawab Sam menghindari kecurigaan ibunya. Dia langsung berjalan ke dapur. Di luar sudah agak terang. Bulan bulat sempurna.

Sam membuka pintu dapur dan turun menuju ke sumur. Sebenarnya sudah ada air di dapur, tapi Sam lebih suka langsung wudu di dekat sumur. Kecuali hari hujan deras.

Sam melihat Ibu dan adiknya baru keluar. Mata Nengsih tampak masih terpejam. Gadis kecil itu memang paling susah dibangunin!

“Ini Dek, aik e,” ucap Sam. Dia sengaja menunggu Nengsih untuk berwudhu. Sam sangat melarang Nengsih menimba air.

Terdengar suara azan dari mesjid di dekat simpang jalan. Tidak begitu jauh. Sam selalu menyempatkan diri untuk salat di masjid. Biasanya kalau Subuh, Kakeknya selalu menunggunya di depan rumah. Lalu mereka bersama-sama ke masjid. Suhana dan Nengsih salat di rumah.

“Mak, aku ke mesjid duluk,” ucap Sam pamit pada ibunya. Anak itu sudah memakai baju koko yang dibelikan Suhana saat lebaran kemarin. Kain sarung di selempang kan di pundaknya.

“Ye, Bang. Kakek kao, la nunggu kalo e,” jawab Suhana.

“Ye, Mak.” Sam segera memakai sendal jepit dan menuju rumah Kakeknya. Kemudian nanti dari sana mereka berjalan menuju mesjid.

“Kek, ade kapal gede di Bom, kate e dari Ambon.” Sam menceritakan pada kakeknya.
“Ye ke… “

“Iye Kek.”

“Cube tanya, sua ade yang kenal kan ayah kao,” kata Kakek sambil mengusap kepala cucu laki-laki nya itu. Laki-laki itu merasa kasihan dengan kedua cucunya yang harus kehilangan ayah. Karim merasa geram kalau mengingat perbuatan menantunya yang tidak bertanggung jawab.

Bersambung …

Baca Juga: Upacara Peringatan Hari Santri 2022 Mengusung Tema Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan


Sahabat, ikutin terus perkembangan informasi yang disajikan media online pradivanews.com, dan jangan lupa untuk meng-klik tombol suka dan mengikuti Pradiva News di Fanpage Facebook agar sahabat tidak ketinggalan informasi yang baru saja kami update …

Caranya mudah, dengan sahabat meng-klik link Fanpage Facebook berwarna hijau ini, maka sahabat akan masuk ke halaman Fanpagenya Pradiva News di Facebook …

Kami juga memiliki Channel Youtube, untuk melihatnya sahabat bisa meng-kliknya langsung .. Maka sahabat akan masuk ke channel group kami yang menyajikan informasi dalam format visual .. Trusss, jangan lupa like dan subscribe yaaa …

Yuuk sahabat klik sekarang juga …

judul gambar