oleh

Part 5 : Mimpi Anak Pulau | By Nelly Kartins

judul gambar

pradivanews.comSAHABAT pembaca, cerita dengan judul Mimpi Anak Pulau ini merupakan buah karya seorang guru dengan nama penulisnya Nelly Kartins. Cerita yang kami sajikan bersambung ini, sudah dibukukan oleh penulisnya. Berikut ini cuplikan ceritanya untuk Part 5, tapi jangan lupa baca juga part sebelumnya, agar ceritanya bisa nyambung …

Baca Sebelumnya: Part 4 : Mimpi Anak Pulau | By Nelly Kartins

Part 5 :

“Bang ade Ibu Guru kan Kak Mira,” ucap Nengsih. Ternyata gadis kecil itu ikut pulang bersama Bu Retno.
Cie cie Abang…” Nengsih meledek Sam.
“Ape ken, kao ne, Dek. Ganti baju sanak!” Sam mengusir adiknya. Rahim tertawa melihat tingkah kedua kakak beradik itu. Di luar terdengar Suhana mengajak Ibu Retno untuk masuk.

“Mari, silakan masuk, Bu.”
Mendengar itu Nengsih segera berlari ke kamarnya untuk mengganti pakaian seragam yang dikenakannya. Sam dan Rahim hanya bisa berpandangan pasrah pada apa yang akan terjadi.

“Sam, ini aku pinjamkan catatan pelajaran hari ini.” Mira mengeluarkan buku tulis dari dalam tasnya dan memberikan pada Sam. Tangan Mira memegang kaki Sam yang sakit.

“Masih sakit?” tanya Mira, membuat Sam salah tingkah. Dia merasa malu apalagi Rahim terus meledek nya.
“Aduhh yang perhatian,” Rahim tersenyum dan mencolek Sam.

“Ape ken,Him,” ucap Sam yang merasa malu. Apalagi kemudian Suhana dan Bu Retno ikut duduk bersama mereka di ruang tengah tempat Sam berbaring. Dia memang tidak punya kamar.

“Sam, tadik ade Bapak Rendy ke sekulah, mulenye nak ketemu kan kao.” Mira nyerocos tanpa bisa dicegah. Rahim dan Sam terdiam. “Nak ngape Bapak Rendy nyari Sam?” tanya Suhana. Wanita itu tidak mengerti apa yang terjadi.

“Bapak Rendy nak minta maaf, Mak Cik, menje kemarik Rendy la nendang kaki Sam,” jawab Mira menjelaskan. Rahim dan Sam hanya bisa tertunduk. Habislah sudah. Kebohongan mereka sudah terbongkar.

“Iye Mak Cik. Tadi Pak Basir memang datang ke sekolah. Beliau meminta Rendy untuk meminta maaf karena telah berbuat curang saat main bola kemarik,” tambah Bu Retno.

“Oo gituu,” jawab Suhana seraya menatap Sam dan Rahim yang kini hanya bisa tertunduk. Mereka siap menunggu apa yang akan dikatakan Suhana. Namun, apa yang mereka khawatirkan tidak terjadi. Suhana pamit ke dapur untuk membuat minuman.
“Buk, aku tinggal dulu, nak muat minum.”

“Dak usa Mak Cik, aku tidak bisa lama-lama, karena harus kembali ke sekolah, Mudah-mudahan Sam cepat sembuh dan bisa masuk sekolah, karena suat agik ujian,” ucap Bu Retno pamit pada Suhana.

“O iye Buk, Terima kasih sudah menjenguk Sam,” jawab Suhana. Bu Retno bangkit dari duduknya. Dia menoleh pada Mira.
“Mira, mau pulang sama Ibu?” tanya Bu Retno yang melihat Mira seperti masih betah.

“Iya, Buk. Aku ikut,” jawab Mira. Gadis dengan bulu mata lentik itu ikut bangkit. Walau sebenarnya gadis beranjak remaja itu masih ingin berlama-lama di dekat Sam. Tapi, dia harus pulang dulu ke rumah, karena nanti pasti ibunya khawatir.

“Dek, Kakak balik duluk ye, kini Kakak ngulak agik,” ucap Mira pada Nengsih yang sudah berganti pakaian.
“Iye Kak,” jawab Nengsih tersenyum.
Setelah Bu Retno dan Mira pergi, Suhana mengajak Rahim untuk makan siang bersama.

“Bang, ajak Rahim makan dulu, la siang.”
“Ye, Mak.”
Rahim ke dapur bersama Sam dan ikut makan. Nengsih dan Suhana sudah makan lebih dulu.

“Makanlah, tapi dak belaok,” ucap Suhana pada Rahim. Tadi dia memasak sayur katuk yang dipetiknya dari belakang rumah. Kemudian ada ikan yang digorengnya. Suhana juga membeli ikan dari Pak Sukir yang baru pulang mancing.

MAP

Tadinya Pak Sukir tidak mau di bayar. “Jangan gitu Bang, aku kan nak meli,” ucap Suhana. Dia tidak mau dikasihani. Walau sendiri dia berusaha untuk mencukupi kebutuhan dirinya dan kedua buah hatinya. Suhana juga selalu menjaga dirinya agar tidak terjadi fitnah. Walau sudah lama ditinggal namun statusnya masih menikah.

Saat mereka sudah selesai makan. Suhana menatap Sam dan Rahim. “Ngape jadi bebulak?” tanya Suhana lembut tapi tegas. Sam tertunduk.
“Maaf, Mak Cik. Kamek takut kalo nyebut benar-benar kini kamek dak agik di suro main bula.” Rahim yang menjawab.

“Ye, tapi ndak kuang gitu.”
“Ye, Mak. Aku minta maaf,” ucap Sam lirih.
“Sekarang cube cerite kiape sampai kaki Abang di tendang?”

Rahim baru mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Sam, saat terdengar suara ketukan dan salam dari luar.
“Assalamu’alaikum….”

“Waalaikumussalam,” jawab Suhana. Mereka semua ke ruang depan untuk melihat siapa yang datang. Sam dan Rahim terkejut saat melihat Pak Basir yang datang bersama Rendy.
“Silakan masuk, Pak,” ucap Suhana mengajak tamu mereka untuk masuk. Rendy tampak diam. Tidak seperti biasa yang selalu sombong dan angkuh mentang-mentang orang tuanya kaya.

Suhana menyilakan Pak Basir untuk duduk di kursi plastik yang ada di ruang depan rumah mereka.
“Silakan duduk, Pak.”
“Iya, Terima kasih Bu.” Pak Basir menatap Suhana. Melihat hal itu Sam merasa tidak suka melihat cara Pak Basir menatap ibunya.

“Kedatangan kami kemari sebenarnya untuk minta maaf atas kelakuan Rendy,” ucap Pak Basir. Rendy hanya diam mendengar perkataan ayahnya.
“Ayo, Rendy, minta maaf pada Sam,” titah Pak Basir pada putranya. Awalnya Rendy bergeming.

“Ayo, minta maaf atau kamu ayah masukkan ke pesantren,” ancam Pak Basir. Mendengar hal itu perlahan Rendy menghampiri Sam, anak yang selalu mau jadi jagoan di sekolah itu menghampiri Sam dan mengulurkan tangannya.

“Maaf,” ucapnya datar. Sam menyambut uluran tangan Rendy.
Namun, dia merasa tangannya seperti ditepis, tapi Sam hanya diam. Dia tidak mau menambah masalah.
Pak Basir terlihat puas melihat anaknya sudah mau meminta maaf.

“Baik, Sam. Bapak dengar kamu kiper andalan. Ini Bapak punya hadiah buat kamu.” Laki-laki itu memberikan sebuah kotak yang dikeluarkannya dari kantong plastik yang dibawanya. Rahim menatap Sam. Sementara Rendy tampak tidak peduli.

“Ini ambillah.” Pak Basir memberikan kotak itu pada Sam. Sam menatap ibunya seakan minta persetujuan. Suhana mengangguk. Tidak baik menolak pemberian orang. Sam menerima kotak itu.
“Bukalah,” pinta Pak Basir. Perlahan Sam membukanya. Ternyata sepasang sepatu bola.

“Cobalah, nanti kalau tidak pas bisa ditukar,” ujar Laki-laki itu lagi. Sesekali terlihat matanya mencuri pandang pada Suhana. Sam mengeluarkan sepasang sepatu bola itu dari kotaknya dan mencobanya. Ternyata ukurannya pas. Karena memang kakinya hampir sama dengan Rendy.

“Sudah Pak, pas. Terima kasih,” ucap Sam.
Wajahnya datar. Walaupun sebenarnya sudah sejak lama dia menginginkan untuk memiliki sepatu bola. Namun, dia tidak berharap dengan cara seperti ini.
“Silakan diminum, Pak. Maaf hanya teh,” ucap Suhana. Dia membuat dua cangkir teh untuk tamu mereka.

“Tidak apa Bu, ini sudah lebih dari cukup. Saya rasa ini teh yang paling enak yang pernah saya minum,” ucap Pak Basir. Suhana menjadi tidak enak hati mendengar ucapan itu. Sam juga merasa sangat kesal dan tidak suka. Dia menganggap ucapan Pak Basir terlalu lebay dan gombal.

“Jadi untuk selanjutnya kalian bisa main bola bersama-sama, ya, nanti akan saya belikan baju kesebelasan untuk pemain-pemain yang terpilih,” ucap Pak Basir lagi. Sam menjadi tidak nyaman dengan Rahim. Dia juga tidak mau kalau harus masuk tim dan bergabung dengan Rendy dan kawan-kawannya.

“Maaf, Pak. Silakan ngobrol bersama anak-anak.”
“Oh, iye. Terima kasih.” Pak Basir tersenyum dan kembali menatap Suhana lekat. Wanita itu segera pergi ke dapur. Dia merasa takut. Mungkin karena Suhana sudah pergi. Tak lama kemudian Pak Basir pamit pulang.

“Baik, Terima kasih, Pak.” Sam dan Rahim mencium tangan Pak Basir. Rendy langsung turun dari rumah dan langsung menuju sepeda motor ayahnya yang diparkir di pinggir jalan. Sebuah sepeda motor keluaran terbaru.

“Sakit membawa keberuntungan,” ucap Rahim meledek Sam, setelah Rendy dan ayahnya pergi.
“Ambikla kalo kao nak,” jawab Sam dengan nada kesal pada Rahim.

“Becangek Boy, santai!” Rahim menepuk pundak sahabatnya. Dengan langkah tertatih, Sam masuk ke ruang tengah. Masih terbayang tatapan Pak Basir pada ibunya membuatnya sangat kesal dan marah.

“Sam, aku balik duluk ye,” ucap Rahim pamit untuk pulang. Sam mengangguk.
“Kalau sudah sembuh, kini kite ke kapal,” bisik Rahim. Keinginannya untuk naik ke kapal besar masih menggebu. Sam hanya tersenyum meringis menanggapi ajakan Rahim.

Bersambung …

Baca Juga: Yoga Lepas Peserta Jalan Sehat HUT ke-58 tahun Partai Golkar, Dilaksanakan Serentak di Seluruh Indonesia


Sahabat, ikutin terus perkembangan informasi yang disajikan media online pradivanews.com, dan jangan lupa untuk meng-klik tombol suka dan mengikuti Pradiva News di Fanpage Facebook agar sahabat tidak ketinggalan informasi yang baru saja kami update …

Caranya mudah, dengan sahabat meng-klik link Fanpage Facebook berwarna hijau ini, maka sahabat akan masuk ke halaman Fanpagenya Pradiva News di Facebook …

Kami juga memiliki Channel Youtube, untuk melihatnya sahabat bisa meng-kliknya langsung .. Maka sahabat akan masuk ke channel group kami yang menyajikan informasi dalam format visual .. Trusss, jangan lupa like dan subscribe yaaa …

Yuuk sahabat klik sekarang juga …

judul gambar