oleh

Part 4 : Mimpi Anak Pulau | By Nelly Kartins

judul gambar

pradivanews.comSAHABAT pembaca, cerita dengan judul Mimpi Anak Pulau ini merupakan buah karya seorang guru dengan nama penulisnya Nelly Kartins. Cerita yang kami sajikan bersambung ini, sudah dibukukan oleh penulisnya. Berikut ini Part 4 untuk cuplikan ceritanya…

Baca Sebelumnya: Part 3 : Mimpi Anak Pulau | By Nelly Kartins

Part 4:

“Maaf, Paman. Ini kapal dari mana?” Sam menahan seorang laki-laki yang baru saja turun dari kapal yang sejak tadi mereka perhatikan. Mau naik ke kapal takut diusir disangka mau minta ikan.

“Iya, Nak. Kenapa? Ini kapal dari Ambon,” jawab laki-laki bertubuh gempal dan berambut keriting kemerahan itu menjawab pertanyaan Sam dengan ramah. Sam menoleh ke arah Rahim.

“Ada apa?” tanya laki-laki itu yang ternyata memperhatikan kedua anak itu.

“Kami mau nanya, apa Paman kenal dengan La Harun?” tanya Rahim. Sam hanya diam.

Laki-laki itu memperhatikan kedua anak itu. “Siapanya kalian? La Harun?” Laki-laki itu balik bertanya.

“Ayahnya Sam, paman!” jawab Rahim dengan semangat. Anak itu merasa kesakitan saat kakinya diinjak oleh Sam yang menatapnya dengan tatapan protes. Sam tidak mau Rahim menceritakan tentang siapa dirinya. Dia juga merasa malu memiliki ayah yang melupakan istri dan anaknya. Sam hanya tertunduk. Laki-laki yang mereka panggil paman itu mengusap kepala Sam. Entah apa maksudnya, mereka tidak mengerti. Mungkin karena merasa kasihan dengan anak kecil yang terpisah dari ayahnya.

“Maaf, Paman tidak tahu. Tapi coba naik ke kapal. Mungkin ada yang mengenal ayah kamu,” ucap laki-laki itu. Mendengar hal itu Rahim tampak sangat bahagia. Dia memang sangat ingin naik ke kapal besar itu.

“Aku ndak nak,” jawab Sam saat Rahim mengajaknya naik ke kapal.

“Ayuk la Sam, sape tahu ade yang kenal kan Ayah kao,” rayu Rahim. Sam tetap bergeming.

“Tidak apa-apa Nak. Naiklah, Paman mau ke warung dulu,” ucap laki-laki yang belum mereka ketahui namanya itu. Dia berjalan ke arah warung yang ada di samping pintu gerbang dermaga.

“Maaf nama Paman siapa?” tanya Rahim sambil mengejar laki-laki itu. Anak itu memang sangat pemberani dan cepat akrab dengan orang asing. Laki-laki itu menghentikan langkahnya dan tersenyum. “Nama paman, La Andi,” jawabnya.

“Ok Paman, Terima kasih!” Rahim tampak girang.

“Ayo Sam, kita naik. Kini kite sebut la di suro Paman La Andi,” ajak Rahim menarik tangan Sam untuk meniti papan yang digunakan untuk menyeberang ke kapal. Karena badan kapal tidak sepenuhnya bisa merapat ke dermaga.

“Ndak ah, aku nak balik. Kate kao kite nak main bula ke dampar,” jawab Sam. Dia menolak ajakan Rahim. Mendengar jawaban Sam, Rahim teringat janji mereka untuk bermain bola di lapangan yang terletak di Dampar ( sebutan untuk bagian utara Pulau Seliu).

“O ye la, biar isok la baru kite ke kapal,” jawab Rahim. Karena pasti teman-teman mereka sudah menunggu. Karena Sam adalah kiper andalan mereka.

“Yuk!” ajak Rahim. Mereka segera berjalan menuju sepeda Sam.

“Kao dak bawak kertangin?” tanya Sam yang melihat Rahim mengikuti dirinya.

“Ndak, ajak aku ye. Biar aku yang ngumpil,” jawab Rahim sambil tersenyum.

Tak lama kemudian keduanya sudah berboncengan menuju ke lapangan bola. Ternyata memang mereka sudah di tunggu.

“Lamak benar mikak ne! La sure ini, kini kite ndak lamak maine!” omel beberapa anak. Tampak mereka sudah siap untuk bermain sepak bola.

Beberapa anak lengkap dengan sepatu bolanya. Mereka segera masuk ke lapangan. Sam melepas sendal jepitnya di pinggir lapangan. Rahim mengenakan sepatu bola yang dibawa di dalam tas ranselnya.

“Masa main bula, nyeker!” ucap Rendy seraya melirik Sam. Mendengar hal itu Sam hanya diam. Karena hanya dirinya yang tidak memakai sepatu bola.

MAP

Sesaat kemudian permainan berlangsung seru. Tidak ada yang bisa membobol gawang Sam. Anak itu begitu cekatan berlari dan menangkap bola. Dia tidak peduli kakinya terasa sakit karena menginjak rumput ilalang yang baru mau tumbuh. Yang penting gawangnya tidak kemasukan bola. Hal ini yang disukai teman-temannya Sam. Walau mereka tahu Sam tidak punya sepatu.

Sorak-sorai terdengar saat bola menjebol gawang lawan. Permainan mulai agak panas. Saat Sam menangkap bola yang menuju gawangnya dia terkejut dan terjatuh karena kakinya ditendang dengan keras. Anak itu terjerembab. Namun bola masih dalam dekapannya. Rendy dari tim lawan telah bertindak curang.

Melihat Sam terjatuh, Teman-teman merubunginya. Sam merasa kakinya sangat sakit. Beberapa temannya merasa kesal dan berusaha untuk membalas perbuatan Rendy. Namun, Sam berusaha untuk mencegahnya.

“Udah, jangan. Kini kite ndak kuang agik main bula di sinek,” ucap Sam mengingatkan teman-temannya. Memang lapangan bola itu dibuat olah ayahnya Rendy. Beliau orang yang sangat baik, berbeda dengan anaknya yang sombong dan angkuh.

Permainan berakhir. Sam memaksakan diri untuk bangkit, walau betisnya terasa sangat sakit karena kena tendangan dengan sepatu bola yang sangat keras.

“Yuk kite balik, antar aku ke rumah ye, Him.” Sam meminta tolong pada Rahim untuk mengantarnya sampai rumah. Karena dia tidak bisa mengayuh sepeda sendiri.

“Iye, yuk. Naik lah.” Rahim sudah mengambil sepeda Sam dan membantu temannya itu untuk naik ke boncengan. Sesekali Sam meringis kesakitan. Dia juga merasa takut ibunya akan merasa sedih melihat keadaannya. Rahim yang merasa kasihan melihat keadaan Sam, mengayuh sepedanya dengan cepat.

“Pigangan Sam, kite ngebut biar cepat sampai,” ujar anak itu. Melihat sahabatnya yang terus berusaha mengayuh sepeda saat melewati tanjakan, sebenarnya Sam merasa kasihan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain tetap duduk di boncengan. Rahim langsung membawa sepeda ke belakang rumah Sam. Saat dia sedang membantu Sam untuk turun, Suhana melihatnya.

“Sam, ngape Nak?” Suhana langsung mendekat dan membantu menurunkan anak laki-lakinya itu dari boncengan. Tampak sekali dari raut wajah wanita itu kalau dia sangat merasa khawatir.

“Ngape Sam, Him? Mikak isak jatuk?” tanya Suhana mencecar Rahim dengan pertanyaan. Sam yang sudah duduk di tangga hanya diam. Dia takut Rahim akan menceritakan yang sebenarnya yang berakibat dirinya tidak akan diperbolehkan lagi untuk bermain bola.

“Iye Mak cik, tadi kamek tebaring, rude sepida nerpak batu, kaki Sam ditimpak sepida, ” jawab Rahim. Sam tersenyum mendengar jawaban Rahim.

“Dasar tukang bebulak,” ucap Sam dalam hati. Tapi kali ini dia harus berterima kasih pada sahabatnya itu.

“Mak cik, aku balik duluk,” ucap Rahim pamit pulang pada Suhana, dia takut kalau lama-lama akan banyak pertanyaan dari Ibunya Sam, dan kebohongan mereka akan terbongkar.

“Iye, Him. Makase ye la ngantar Sam.”

“Iye, Mak. Assalamu’alaikum.” Rahim langsung pulang. Suhana langsung memapah Sam masuk ke dalam rumah.

“Mak kaki aku kutor,” ucap Sam merasa bersalah pada Suhana.

“Cuci duluk, tunggu di sinek.” Suhana kembali mendudukkan Sam di tangga. Wanita itu mengambil air di ember dan handuk kecil. Disiram dan disabuninya kaki anak laki-lakinya itu perlahan-lahan. Sam meringis kesakitan. Setelah selesai, kaki Sam dilap menggunakan handuk kecil. Dan dipapahnya Sam ke dalam rumah.

“Tiduran duluk, kini Umak balor kan jadam biar ndak bengkak,” kata Suhana. Wanita itu tampak begitu khawatir. Sam merasa sangat bersalah, dia merasa selalu menyusahkan ibunya. Tapi dia tidak bisa apa-apa.

“Itula, hati-hati,” ucap Suhana seraya membalurkan ramuan jadam di betis kaki kiri Sam.

“Iye, Mak,” jawab Sam lirih.

“Mak ngape Abang?” tanya Nengsih yang baru pulang dari rumah Kakeknya. Gadis kecil itu duduk di samping abangnya itu.

“Abang jatuk dari sepida,” jawab Suhana.

“Itulah Abang se, ndak ngajak Adek,” jawab Nengsih. Mendengar jawaban gadis kecil itu Sam dan Suhana tidak bisa menahan tawa mereka.

“Ape Adek ne, ndak nyambong,” jawab Sam sambil meringis karena kakinya terasa nyeri. Nengsih yang merasa ditertawakan merasa kesal dan bangkit menyusul Suhana yang sudah kembali ke dapur.

Keesokan harinya Sam tidak bisa sekolah, karena kakinya masih sakit kalau dibawa berjalan. Suhana menitip surat izin pada Rahim yang tadinya ingin menjemput Sam ke sekolah. Tadinya surat mau dititip pada Nengsih.

Di sekolah, kabar tentang Sam yang sakit karena kakinya bekas ditendang Rendy ternyata sudah ramai. Bahkan ada yang mengadukannya pada guru. Rahim yang mengetahui hal itu menjadi khawatir takut ibunya Sam tahu mereka sudah berbohong.

Saat pulang sekolah dia langsung menemui Sam, dengan suara pelan, Rahim menceritakan tentang kehebohan di sekolah. Tiba-tiba di luar terdengar ramai, ada yang mengucap salam.

Rahim bergegas keluar, dia ingin melihat siapa yang datang. Langkahnya terhenti dilihatnya Suhana sedang berbicara dengan Mira, ada juga Ibu Retno, wali kelas mereka. Rahim segera kembali menemui Sam dan menceritakan apa yang dilihatnya.

Bersambung…

Baca Juga: Luapan Sungai Cerucuk Masih Merendam 5 Rumah Warga Sekitar


Sahabat, ikutin terus perkembangan informasi yang disajikan media online pradivanews.com, dan jangan lupa untuk meng-klik tombol suka dan mengikuti Pradiva News di Fanpage Facebook agar sahabat tidak ketinggalan informasi yang baru saja kami update …

Caranya mudah, dengan sahabat meng-klik link Fanpage Facebook berwarna hijau ini, maka sahabat akan masuk ke halaman Fanpagenya Pradiva News di Facebook …

Kami juga memiliki Channel Youtube, untuk melihatnya sahabat bisa meng-kliknya langsung .. Maka sahabat akan masuk ke channel group kami yang menyajikan informasi dalam format visual .. Trusss, jangan lupa like dan subscribe yaaa …

Yuuk sahabat klik sekarang juga …

judul gambar