oleh

Ecoprint, Peluang Bisnis Baru Berbasis Ramah Lingkungan Merambah Selat Nasik

BELITUNG, pradivanews.com – Berbeda dengan motif batik pada umumnya, motif batik hasil karya salah satu Pelaku UMKM di Desa Suak Gual, Kecamatan Selat Nasik, Belitung ini dikerjakan dengan proses yang disebut ecoprint.

Istilah ecoprint mungkin masih terasa asing untuk kalangan masyarakat luas. Namun istilah ecoprint ini sudah sangat dikenal bagi mereka yang berkecimpung di bidang industri tekstil, terutama dalam pekerjaan membatik.

BACA JUGA: Pelaku Habisi Nyawa Perempuan Pekerja Karaoke, Diduga Karena Tidak Terima Hubungan Asmara Mereka Diputus Korban

Ecoprint, merupakan sebuah istilah yang berasal dari 2 suku kata, yakni eco atau ekosistem yang berarti lingkungan hidup dan print yang berarti cetak. Jika diartikan, maka ecoprint ini dapat disebut sebagai teknik mencetak pada kain yang berserat alami dengan pewarna alami dan menggunakan daun sebagai motif, serta dikerjakan secara manual dengan cara yang sederhana.

Melansir wanaswara.com, teknik ecoprint ini diperkenalkan oleh Indiana Flint pada tahun 2006, yaitu
Ketika Flint menambahkan daun-daun yang mempunyai pigment dengan menempelkannya pada
kain yang berserat alami. Teknik ini merupakan perkembangan dari teknik ecodyeing

Saat ditemui pradivanews.com, Ramses salah satu pelaku UMKM di bidang ecoprint di Desa Suak Gual ini mengaku baru saja menyelesaikan proses ecoprint untuk 5 jenis bahan.

ecoprint

Menurut Ramses, pada umumnya semua jenis tumbuhan yang ada di hutan dapat dipergunakan dalam proses ecoprint, baik sebagai pewarana maupun dijadikan sebagai motif.

“Di sini (Desa Suak Gual), kami menggunakan tumbuhan yang dominan tumbuh di hutan. Untuk pewarnanya kita bisa menggunakan daun Ketapang, daun Pisang kering, daun Alpukat, daun Mangga, daun Jambu, dan kulit Pisang. Atau bisa juga kita menggunakan pewarna dari kulit kayu Secang, kayu Tingi, atau Tengger”, sebut Ramses kepada pradivanews.com, Senin (18/07/2022) sore.

Sedangkan untuk motif pada kain, Ramses mengatakan sering menggunakan daun Keremunting, daun Gelam, daun Jati, daun Biden, daun Jambu, daun Sapu-Sapu, daun Blue Berry, serta tumbuhan liar lainnya yang ada di hutan.

Ramses juga menjelaskan, proses ecoprint dapat dikerjakan dengan dua teknik pewarnaan yaitu Teknik Iron Blanked dan Teknik Pounding. Yang membedakan kedua teknik ini adalah pada dua tahap pengerjaan paling akhir atau finishing.

“Pada Teknik Iron Blanked, untuk mendapatkan hasil pewarnaan yang maksimal maka kainnya harus digulung menggunakan paralon. Sedangkan pada Teknik Pounding dilakukan dengan cara memukul kain menggunakan palu kayu”, jelasnya.

Yang kedua, menurut Ramses pada Teknik Iron Blanked kain yang telah digulung menggunakan paralon kemudian dikukus selama kurang lebih 2 jam. Sedangkan pada Teknik Pounding dilakukan dengan cara menjemur kain di bawah terik sinar matahari.

BACA JUGA: Seratus Tahun Yang Lalu

Ia juga menambahkan, untuk pengerjaan pada tahap-tahap awalnya sama. Pertama-tama kain yang akan digunakan harus dibersihkan terlebih dahulu, bisa dengan cara dicuci atau disebut mordanting. Setelah itu menyiapkan pewarna alami dengan merendam dedaunan yang akan digunakan di dalam larutan cuka.

“Kain yang sudah bersih kita bentang, kemudian tempel atau letakkan daun-daun yang sudah direndam dalam larutan cuka, terus digulung dan diikat dengan tali”, tutup Ramses. (esd)

judul gambar